Investigasi Motor Listrik MBG: Dugaan Markup Anggaran dan Profil Perusahaan Misterius
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tengah menjadi sorotan publik. Bukan karena menu makanannya, melainkan karena besarnya anggaran operasional yang dikeluarkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Salah satu yang paling menarik perhatian adalah pengadaan motor listrik MBG yang dinilai memiliki banyak kejanggalan.
Berdasarkan hasil investigasi yang dirilis oleh Project Multatuli, terdapat indikasi pemborosan anggaran negara dalam pengadaan berbagai aset operasional. Berikut adalah beberapa poin krusial yang perlu diketahui masyarakat.
Kejanggalan Profil Perusahaan Emmo Mobility
Dalam pengadaan ini, muncul nama perusahaan Emmo Mobility. Berdasarkan penelusuran pada laman resminya, sejarah perusahaan ini tercatat baru didirikan pada tahun 2025. Meskipun tergolong sangat baru, perusahaan ini mengklaim telah membangun 50 dealer resmi di berbagai kota di Indonesia.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Penelusuran melalui Google Maps tidak menemukan satu pun dealer resmi Emmo Mobility yang diklaim tersebut. Selain itu, alamat kantor pusat perusahaan yang tercantum justru merujuk pada kantor perusahaan motor listrik lain, yaitu PT Kaisar Motorindo Industri.
Harga Motor Listrik MBG dan Masalah Hak Paten
Kejanggalan lain muncul dari sisi harga dan administrasi. Melalui e-Katalog 6.0, BGN membeli motor listrik MBG bermerek Emmo Mobility dengan dua tipe utama:
-
Seri JVH Max: Dibanderol seharga Rp49.950.000.
-
Seri JVH GT: Dibanderol seharga Rp48.840.000.
Bahkan, terdapat informasi bahwa harga per unit bisa mencapai Rp56 juta jika diakumulasikan dengan biaya lainnya. Selain harganya yang di atas rata-rata motor listrik sejenis, garis waktu (timeline) pengadaannya pun mencurigakan.
Dokumen menunjukkan bahwa proses pembelian diperkirakan selesai pada 14 Oktober 2025. Namun, hak paten desain industri motor tersebut baru didaftarkan tiga hari setelahnya, yakni pada 17 Oktober 2025.
Dugaan Markup pada Kaos Kaki dan Tablet
Ternyata, dugaan pembengkakan anggaran tidak hanya terjadi pada motor listrik MBG. Investigasi juga mengungkap belanja barang lain yang harganya jauh di atas harga pasar, antara lain:
-
Kaos Kaki MBG: Dibeli seharga Rp100.000 per pasang melalui PT Gajah Mitra Paragon, dengan total dana mencapai Rp3,4 miliar.
-
Tablet Samsung Galaxy Tab Active 5: Dibeli dengan harga bundling Rp17.927.000 per unit, padahal harga di marketplace jauh di bawah angka tersebut.
Kesimpulan Investigasi
Rentetan kejanggalan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai transparansi penggunaan dana publik oleh Badan Gizi Nasional. Mulai dari pemilihan vendor yang misterius hingga penetapan harga barang yang diduga telah di-markup.
Hasil investigasi lengkap mengenai potensi kerugian negara ini dapat Anda baca lebih lanjut melalui laman Project Multatuli.
Otista News – Terhubung Lebih Baik Bagaimana pendapat Anda mengenai anggaran operasional MBG ini? Tulis pendapat Anda di kolom komentar! Jangan lupa Follow, Like, and Share agar informasi ini bermanfaat bagi masyarakat luas.












